MAMUJU, Beritabenua-Produksi film tentu saja berhubungan dengan kebanksentralan. Pentingnya sosialisasi terkait kebanksentrelan itu diutarakan oleh Muhammad Fadhil Nasution, Humas BI Sul-Bar, sebab memang acapkali ada kesalahpahaman tentang Bank Indonesia di masyarakat.
Banyak yang berpikir, Bank Indonesia sama seperti dengan bank-bank konvensional yang berhubungan langsung melayani masyarakat.
Dr Andi Cibu: Putusan MK 123/2025 Pertegas Batas Penerapan UU Tipikor dalam Kasus Sektoral
BeritaBenua.com • 1 hari lalu
Berita Terkini
Konservasi Mangrove Camp Dirangkaikan dengan Aksi Bersih Pesisir dalam Rangka Hari Bumi 2026 di Kampung Nelayan Untia
BeritaBenua.com • 2 hari lalu
Berita Terkini
"Padahal tidak. Bank Indonesia adalah lembaga milik negara yang mengatur program terkait, yang intinya ada tiga poin, pertama mencapai stabilitas nilai rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, memelihara sistem keuangan bedanya juga, kalau bank-bank konvensional itu didirikan melalui akta pendirian perusahaan, kalau BI berdasar undang-undang, satu punya swasta, satu milik negara" ucap Muhammad Fadil selaku Humas BI Sulbar. Sabtu (26/10).
Bahkan, Bank Indonesia adalah puncak dimana misalnya ketika ada bank konvensional yang barangkali hampir collapse, tak jarang BI menjadi lembaga yang membantu bank tersebut dari kebangkrutan.
Kementerian Kehutanan Semarakkan Hari Bakti Rimbawan dan Hari Bumi Sedunia Tahun 2026
BeritaBenua.com • 3 hari lalu
Berita Terkini
Lomba Aksi Bersih Pulau Kambuno 2026, Tim Lorong Timur Raih Juara Pertama
Arrang Saz • 3 hari lalu
Berita Terkini
Meskipun demikian, bukan berarti Bank Indonesia menutup diri dengan masyarakat. BI tetap terbuka bagi masyarakat meskipun sifatnya tentu saja bukan layanan seperti bank konvensional.
"Bank indonesia hadir, misalnya dalam manakarra film festival untuk membantu daerah memetakan potensi ekonominya. Termasuk film" lanjut Fadil.
Terakhir, Bank Indonesia mengajak seluruh warga sulbar untuk mengikuti terus informasi terkait Bank Indonesia perwakilan Sulawesi Barat di media sosial.
"Ayo follow kami" pungkasnya.
Manakarra film festival menggelar beberapa program pemutaran film sampai 27 Oktober. ada yang dilakukan malam hari, pagi dan sore.
Tak disangka, jadwal MFF bertepatan dengan kegiatan perkemahan di area rumah adat. sehingga, peserta kegiatan perkemahan yang merupakan anak anak sekolah serta pendamping mereka, menyempatkan diri untuk menonton.
"Pada hari kedua menjelang sore misalnya, nyaris semua bangku penonton diisi oleh mereka. tidak hanya menonton, mereka juga tampak percaya diri untuk merespon pertanyaan” kata Direktur Program MFF, Aswad Atjo.
Di antara mereka, ada yang berhasil dapat voucher futsal dan laundry, kerjasama MFF 2024 dengan sponsor.
Terkait tiga film yang diputar pada program sadar Sinema. Diantaranya Tau-Tau, Dongeng si Anak yang bermimpi menjadi peri, dan Dread Tears; tiga film yang sengaja dipilih tim program untuk mewakili bentuk-bentuk penyajian film yang cukup bervariasi.





