MALUKU, Beritabenua—Seorang siswa madrasah di Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara, dilaporkan meninggal dunia setelah diduga menjadi korban penganiayaan oleh oknum anggota Brimob Pelopor C Tual.
Korban diketahui bernama Arianto Tawakal (14), siswa kelas IX Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Maluku Tenggara. Ia mengembuskan napas terakhir setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Karel Sadsuitubun akibat luka serius yang diduga dialami setelah penganiayaan.
Warga di Sinjai Tertimpa Musibah Kebakaran, HIMAS Morowali Salurkan Bantuan
BeritaBenua.com • sekitar 4 jam lalu
Berita Terkini
HWDI Sulsel dan AMAN SulSel Dorong Pelibatan Disabilitas dalam Kebijakan Daerah di Sinjai
BeritaBenua.com • sekitar 14 jam lalu
Berita Terkini
Kronologi kejadian bermula ketika Arianto diduga terlibat insiden dengan oknum anggota Brimob berinisial MS. Dugaan sementara menyebutkan tindakan tersebut melanggar Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, serta Pasal 466 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP Nasional terkait penganiayaan yang mengakibatkan kematian.
Koordinator Isu Hukum & HAM BEM PTMA Indonesia Timur, Mujahid Turaihan, mengecam keras tindakan kekerasan tersebut. Ia mendesak Whansi Des Asmoro selaku Kapolres Tual dan Listyo Sigit Prabowo untuk memastikan proses hukum berjalan objektif, transparan, dan profesional.
Jurnalis Diduga Diintimidasi Saat Liputan BBM Subsidi, SMSI dan HMI Desak Polisi Bertindak Tegas
Arrang Saz • 1 hari lalu
Berita Terkini
HUMANISTIK UMSI Gelar Debat Nasional, Dorong Peran Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045
Arrang Saz • 1 hari lalu
Berita Terkini
“Kami meminta penanganan perkara ini dilakukan secara terbuka dan sesuai prosedur hukum yang berlaku,” ujarnya.
Kasus ini memicu kemarahan publik dan menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan serta perlindungan anak.
Mujahid menegaskan, apabila proses hukum terhadap pelaku tidak berjalan sesuai dengan tingkat kesalahannya, BEM PTMA Indonesia Timur siap menggerakkan massa dan melakukan aksi besar-besaran di seluruh wilayah Indonesia Timur.





