UNM Perkuat Kompetensi Guru SMK Negeri 4 Jeneponto dalam Penyusunan Soal HOTS Berbantuan AI

BeritaBenua.com —
BeritaBenua.comPenulis
Gambar Sampul

JENEPONTO, Beritabenua.com— Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa, Universitas Negeri Makassar (UNM), melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa Pelatihan Penulisan Ragam Jenis Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) Berbantuan Artificial Intelligence (AI) di SMK Negeri 4 Jeneponto, Selasa, 28 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.30 WITA ini menjadi ruang penguatan kompetensi guru dalam merancang asesmen yang tidak hanya mengukur hafalan, tetapi juga mendorong kemampuan bernalar, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Pelatihan dibuka oleh moderator, kemudian dilanjutkan sambutan Kepala SMK Negeri 4 Jeneponto yang diwakili Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat, Hasniar, S.Pd. Dalam suasana yang hangat dan partisipatif, kegiatan juga memperoleh sambutan dari Koordinator Program Studi S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa UNM, Prof. Dr. Mantasiah R., M.Hum. Rangkaian pembukaan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam merespons perkembangan pembelajaran dan evaluasi di era digital.

Materi pelatihan disampaikan oleh Dr. Fathullah Wajdi, M.Pd. dan Dr. Jafar, M.Pd. Pemaparan diawali dengan penguatan pemahaman mengenai perbedaan soal Lower Order Thinking Skills (LOTS) dan HOTS. Peserta diajak melihat bahwa soal HOTS menuntut proses berpikir pada level yang lebih tinggi, seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta, sedangkan LOTS lebih banyak berhubungan dengan mengingat, memahami, dan menerapkan. Penekanan ini penting agar penyusunan soal selaras dengan tujuan pembelajaran serta kompetensi yang hendak dibangun pada peserta didik.

Peserta terlibat aktif dalam sesi tanya jawab dan diskusi.

Narasumber juga menguraikan karakteristik soal HOTS yang baik, antara lain berbasis stimulus yang relevan, menggunakan konteks yang dekat dengan kehidupan peserta didik, serta menuntut penalaran, bukan sekadar pencarian jawaban tunggal secara mekanis. Pada sesi berikutnya, peserta membahas ciri soal pilihan ganda yang berkualitas, termasuk ketepatan pokok soal, keberfungsian opsi, dan penyusunan pengecoh yang logis. Contoh perbandingan LOTS dan HOTS membantu peserta memahami bagaimana sebuah pertanyaan dapat ditingkatkan kualitas kognitifnya melalui pemilihan stimulus dan tuntutan berpikir yang tepat.

Keunggulan lain kegiatan ini terletak pada pengenalan pemanfaatan AI, khususnya ChatGPT, sebagai mitra kerja dalam tahap persiapan penyusunan soal. Materi menekankan bahwa AI dapat membantu merancang gagasan, menyusun stimulus, memvariasikan bentuk pertanyaan, serta menyiapkan draf soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, benar-salah beralasan, menjodohkan kompleks, hingga esai. Namun, pemanfaatannya tetap harus didahului dengan penetapan tujuan pembelajaran, capaian kompetensi, karakteristik peserta didik, level kognitif, dan indikator soal.

Dalam praktiknya, peserta memperoleh contoh penyusunan prompt yang terstruktur. Prompt tidak hanya berisi permintaan membuat soal, melainkan juga memuat mata pelajaran, materi, tujuan pembelajaran, level kognitif, bentuk soal, jumlah butir, karakteristik stimulus, serta kriteria jawaban. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kualitas keluaran AI sangat ditentukan oleh ketelitian guru dalam memberikan instruksi. Karena itu, proses verifikasi, penyuntingan bahasa, pengecekan ketepatan konsep, dan penyesuaian dengan konteks sekolah tetap menjadi tanggung jawab utama pendidik.

Suasana pelatihan diikuti dengan antusias oleh para peserta.

Antusiasme peserta terlihat selama sesi diskusi dan pembimbingan interaktif. Guru-guru mengajukan pertanyaan, mendiskusikan kemungkinan penerapan materi, serta mencoba menerjemahkan kebutuhan pembelajaran ke dalam rancangan soal yang lebih kontekstual. Interaksi tersebut memperkuat pelatihan sebagai forum praktik, bukan semata-mata penyampaian teori. Para peserta juga memperoleh pengingat bahwa AI perlu digunakan secara etis dan proporsional, dengan guru tetap memegang kendali atas mutu akademik dan nilai edukatif setiap butir soal.

Melalui kegiatan PKM ini, UNM dan SMK Negeri 4 Jeneponto mempertegas komitmen untuk menghadirkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan tuntutan zaman. Pelatihan diharapkan memberi bekal praktis bagi guru untuk menghasilkan ragam soal HOTS yang lebih bermakna, terukur, dan sesuai kebutuhan peserta didik. Kolaborasi ini sekaligus menjadi langkah nyata dalam memperkuat budaya asesmen yang mendorong pembelajaran mendalam di lingkungan sekolah. Ke depan, hasil pelatihan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui pengembangan bank soal, berbagi praktik baik antarguru, dan evaluasi berkala atas kualitas instrumen asesmen. Dengan demikian, teknologi tidak berhenti sebagai alat bantu teknis, melainkan menjadi pengungkit peningkatan mutu pembelajaran yang tetap berpusat pada kebutuhan peserta didik.

    Berita Terkait

    Cover
    Berita Terkini

    Taruna Ikrar di Unsri: Resistensi Antibiotik Ancaman Nyata, Kampus Harus Jadi Garda Terdepan Selamatkan Masa Depan Kesehatan Bangsa

    BeritaBenua.com 3 hari lalu

    Baca
    Cover
    Berita Terkini

    Jaga Kamtibmas, Polres Nunukan Jalin Sinergitas dengan Pemangku Adat Dayak

    BeritaBenua.com 3 hari lalu

    Baca
    Cover
    Berita Terkini

    Bapenda Makassar Perkuat Kolaborasi Antardaerah Tingkatkan Tata Kelola Perpajakan

    NURrr Aminn 4 hari lalu

    Baca
    Cover
    Berita Terkini

    KKN UNHAS Demonstrasikan Pembuatan Alat Tebar Pupuk Sederhana bagi Petani Desa Nipa-Nipa

    Arrang Saz 6 hari lalu

    Baca
    Cover
    Berita Terkini

    Bermodal Rekaman CCTV, Tim Resmob Polres Sinjai Ringkus Lima Terduga Pelaku Pelemparan Pos Satpol PP

    Arrang Saz 6 hari lalu

    Baca
    UNM Perkuat Kompetensi Guru SMK Negeri 4 Jeneponto dalam Penyusunan Soal HOTS Berbantuan AI - Berita Benua