OPINI, Beritabenua.com - Pernahkah Anda berselancar di media sosial lalu menemukan potongan video pendek yang menafsirkan sebuah ayat Al-quran dengan begitu meyakinkan, namun beberapa menit kemudian algoritma menyuguhkan konten lain yang menggunakan ayat yang sama untuk menafsirkan hal yang bertolak belakang.?
Ramalan Bill Gates 5 Tahun ke Depan, Inovasi AI Hasilkan Banyak Pengangguran
BeritaBenua.com • lebih dari 2 tahun lalu
Teknologi
Jalan Terlupakan di Bonto Katute: Ketika Harapan Warga Terkubur Bersama Lumpur
BeritaBenua.com • 15 hari lalu
Opini
Fenomena ini sebenarnya seperti dua orang yang sedang memandang sebuah tembok yang sama. Orang pertama menafsirkan bahwa tembok itu adalah susunan kokoh dari batu bata, semen, dan pasir. Sementara orang kedua, dengan kacamata yang berbeda, menafsirkan bahwa tembok itu sejatinya adalah tarian dari miliaran atom-atom kecil yang tak kasatmata.
Karangan Bunga dan Amanah Kekuasaan, Catatan Kritis untuk Kapolres Sinjai yang Baru
Musaddaq • 5 bulan lalu
Opini

Keduanya melihat objek yang sama, namun melahirkan kesimpulan/tafsiran yang berbeda.
Bagi makhluk yang diberkahi akal, perbedaan tafsir dalam menangkap ayat² Al-qur'an seperti ini adalah hal yang wajar, bahkan merupakan sebuah kekayaan intelektual yang patut disyukuri.
Namun, ada satu bala atau tragedi besar yang sedang mengintai di balik riuhnya produksi tafsir modern saat ini, yakni kenapa tafsir² hari ini kehilangan ruhnya.??
Mengapa mereka lahir tanpa nyawa.?
Mari kita jujur berkaca. Di zaman dulu, orang yang menafsirkan al-quran mungkin tidak sebanyak sekarang, dan fasilitas digital belum ada. Namun, tafsiran yang lahir dari rahim masa lalu adalah tafsiran yang betul² menghidupkan jiwa pembacanya. Ia mampu membakar semangat, menggetarkan batin, dan merombak total perilaku manusia yang mempelajarinya.
Nahh coba bandingkan dengan hari ini. Jutaan konten tafsir diproduksi, dikaji, dan didengarkan setiap hari, tetapi ia berlalu begitu saja seperti angin buritan.
Ia tidak membekas di dada, dan jiwa kita tetap sama sebelum dan setelah mendengarnya. Perubahan spiritualitas yang radikal jarang terjadi. Kocak bukan..
******
Dan Ini tentu bukan sebuah kebetulan tanpa sebab.
***
Saya percaya bahwa ini bermula dari pertanyaan mendasar yaitu saat kita menafsirkan al-quran maka alat apa yang sebenarnya kita pakai.?
Ini seperti ketika kita melihat perpaduan warna merah, kuning, biru, dan jingga di langit setelah hujan turun, tafsiran kita otomatis mengatakan itu pelangi. Atau ketika telinga kita menangkap bunyi meong, tafsiran kita langsung menyimpulkan bahwa itu kucing.
Nah, sekarang bayangkan, bagaimana jika mata kita tidak ada dan telinga kita buntu? Mungkinkah kita bisa menafsirkan pelangi dan kucing tersebut? Tentu mustahil.
Tanpa alat indra yang tepat, objek di luar sana secara indrawi tidak akan pernah bisa kita tangkap maknanya.
Demikian pula dengan ayat-ayat Al-qur'an. Tidak mungkin kita bisa menyingkap maknanya sebagaimana adanya tanpa adanya alat atau kacamata yang pas.
Dan di sinilah kita mutlak harus membuka gerbang kajian baru yang sering dihindari karena dianggap terlalu rumit yakni epistemologi.
Nahh epistemologi, sebagai sebuah kacamata berpikir, memegang peran yang sangat menentukan apakah sebuah tafsir akan lahir hidup atau mati.
Tafsir para ulama terdahulu bisa sangat bernyawa karena alat epistemologi yang mereka gunakan selaras dengan karakteristik objek yang mereka bedah. mereka memadukan ketundukan pada teks dengan kejernihan akal dan kebersihan intuisi. sehingga ketika hasil tafsir itu mereka sampaikan, ia langsung menggugah alam pikir, disusul oleh akal yang membenarkannya secara logis, sehingga jiwa tidak memiliki pilihan lain kecuali tunduk, patuh, dan bergerak melakukan perubahan nyata.
Lalu, apa yang salah dengan kondisi hari ini?
*****
Hari ini, ironisnya, akal dalam kajian epistemologi justru sering kali dilarang dan dikucilkan dalam proses memahami ayat suci Tuhan. Ada semacam ketakutan atau doktrin keliru yang mengatakan bahwa nalar manusia tidak akan mampu dan tidak layak menyentuh wilayah sakral firman Tuhan.
Yahh itu karena akal dianggap sebagai musuh dari iman.!!!
Masa sih?
Betulkah demikian?
Yah, tentu tidaklah.
Karena ketika akal dilarang bekerja, maka kacamata epistemologi kita seketika menjadi buram. Yang tersisa hanyalah proses menghafal produk tafsir masa lalu secara mekanis, atau mencocok-cocokkan ayat secara liar demi kepentingan sesaat.
Tanpa keterlibatan akal yang kritis dan jujur, tafsir Al-qur'an akan kehilangan daya jembatannya untuk menyentuh kesadaran manusia. Karena afsir yang membisukan akal niscaya akan melahirkan pemahaman yang mati. Ia mungkin terdengar riuh di pengeras suara atau linimasa media sosial, tetapi ia gagal menjadi kompas perubahan batin.
Dan selama kita masih memperlakukan akal sebagai musuh dalam beragama, selama itu pula kita akan terus menyaksikan banjirnya produk tafsir yang megah secara kuantitas, namun kering kerontang tanpa jiwa.
Sehingga akibatnya, tafsir yang lahir hanya sibuk membenarkan paham atau aliran yang dianut oleh penafsir. Mereka tidak mencoba untuk jujur dan melepas topeng golongannya. Akibat fatalnya, Al-kur'an yang harusnya menjadi pemantik akal terbaik dalam menunjuk kebenaran, malah turun kasta menjadi bahan pembenaran atas apa yang sejak awal mereka anut.
Bagaimana tidak? Hari ini, standar tunggal kelayakan seorang penafsir sering kali dianggap cukup jika ia menguasai ilmu-ilmu bahasa Arab seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan ilmu qira'at. Seolah-olah dengan rumus-rumus itu, penafsiran yang dihasilkan otomatis menjadi benar dan suci.
Mereka lupa atau tidak sadar bahwa Abu Lahab itu fasih berbahasa Arab. Mereka tidak sadar bahwa di Barat ada Theodor Nöldeke dan Arthur Jeffery, atau di Timur ada Al-Ma'arri yang menguasai semua syarat linguistik ini dengan sangat luar biasa, namun efeknya mereka justru tetap menolak konsep agama.
Mereka lupa bahwaada perbedaan mendasar antara memahami struktur ayat melalui nahwu sharaf, dengan mengimani isi ayat (teologi/spiritual).
Yang mengimani makna teks itu adalah akal, dan akal baru bisa mengimani sesuatu jika ia menyaksikan bahwa makna teks tersebut tak lagi memiliki kemungkinan salah sedikitpun, alias mustahil salah, dan di saat yang sama, makna itu mampu mendorong jiwa mendaki puncak tertinggi dari kemanusiaan.
Di sinilah letak tragedi terbesar kita, kitta telah mereduksi kitab suci yang agung menjadi sekadar teka-teki tata bahasa dan itu terbukti ketika tafsir hanya bersandar pada legalitas linguistik tanpa melibatkan kejujuran epistemologis dan kedalaman intuisi batin, al-qur'an hsnya berhenti menjadi petunjuk hidup dan berubah menjadi komoditas perdebatan.
Ia tidak lagi menuntun manusia menuju Tuhan, melainkan diseret untuk membentengi ego kelompok, madzhab, atau kepentingan politik sesaat.
Sehingga saya percaya bahwa bgaimana mungkin sebuah tafsir bisa menghidupkan jiwa, jika si penafsir sendiri datang mendekati Al-qur'an bukan sebagai seorang pencari kebenaran yang haus, melainkan sebagai hakim yang sudah membawa vonisnya sendiri? Al-qur'an tidak didekati untuk didengarkan suaranya, melainkan dipaksa untuk membenarkan isi kepala kita.
Maka jangan heran jika ruang digital kita hari ini riuh oleh para pakar yang fasih melisankan ayat, namun kering dari keteladanan yang memikat. Sehingga kita surplus hafalan, tetapi defisit kesadaran.
Dan ini semua disebabkan ketika memisahkan akal dari iman dalam menafsirkan Al-qur'an, sama seperti bentuk bunuh diri intelektual.
Akal, dengan segala perangkat epistemologiny, bukanlah saingan wahyu, ia adalah karpet merah yang dihamparkan Tuhan agar wahyu itu bisa masuk dan bertahta di dalam kesadaran manusia. Tanpa akal yang kritis, agama akan berubah menjadi dogma yang membatu. Dan tanpa jiwa yang bersih, tafsir hanya akan menjadi senjata pemukul, bukan penyejuk.
Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan Al-Qur'an seperti museum kata-kata mati.
Jika kita ingin tafsir hari ini kembali bernyawa, kita harus berani menanggalkan topeng-topeng fanatisme golongan. Kita harus berani mengembalikan akal ke tempat terhormat yang telah diberikan oleh Tuhan sendiri. Sebab, Al-Qur'an diturunkan bukan untuk membuat kita mahir bersilat lidah di linimasa media sosial, melainkan untuk merombak secara revolusioner batasan-batasan kemanusiaan kita, menggetarkan dada yang beku, dan memerdekakan jiwa yang terpenjara oleh ilusi duniawi.
Selama kacamata epistemologi kita masih buram dan dipenuhi kabut ego, maka sepanjang itu pula puluhan juz ayat yang kita baca hanya akan berhenti di tenggorokan, riuh di pengeras suara, namun mati di dalam dada.





