Satu Bulan Sensus Ekonomi 2026: Bukan Sekadar Mendata, Tetapi Memotret Wajah Baru Ekonomi Indonesia

BeritaBenua.com —
BeritaBenua.comPenulis

Penulis

OPINI, Beritanenua - Satu bulan pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 menjadi momentum penting untuk melihat bagaimana wajah ekonomi Indonesia terus berubah. Sejak pendataan lapangan dimulai pada 15 Juni 2026, ribuan petugas Badan Pusat Statistik (BPS) telah menyusuri kota, desa, hingga pelosok negeri untuk mendata berbagai aktivitas usaha. Bukan sekadar mencatat jumlah toko atau warung, tetapi merekam denyut kehidupan ekonomi masyarakat yang akan menjadi fondasi kebijakan pembangunan selama sepuluh tahun ke depan. 

Salah satu temuan paling menarik di lapangan adalah semakin banyaknya usaha berbasis rumah tangga. Kini, rumah bukan lagi hanya tempat tinggal, tetapi juga menjadi lokasi usaha kuliner, toko daring, jasa digital, konveksi, hingga berbagai usaha kreatif lainnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa batas antara rumah dan tempat usaha semakin kabur seiring perkembangan teknologi dan ekonomi digital. Karena itu, BPS menegaskan bahwa seluruh aktivitas ekonomi perlu didata agar potret ekonomi nasional benar-benar lengkap. 

Dalam satu bulan pertama pelaksanaan, tantangan terbesar bukan terletak pada luasnya wilayah Indonesia, melainkan membangun kepercayaan masyarakat. Masih ditemukan pelaku usaha yang khawatir pendataan berkaitan dengan pajak atau bantuan sosial. Padahal, BPS telah menegaskan bahwa Sensus Ekonomi bukan untuk mengejar pajak, melainkan murni untuk kepentingan statistik sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan. Fakta ini menunjukkan bahwa literasi statistik masyarakat masih perlu terus ditingkatkan. 

Di sisi lain, kerja keras para petugas sensus patut diapresiasi. Mereka harus berjalan dari rumah ke rumah, mendatangi pasar, kios, bengkel, hingga usaha kecil di pelosok desa. Tidak sedikit petugas yang harus menghadapi medan berat, cuaca yang tidak menentu, atau responden yang sulit ditemui karena sedang bekerja. Namun, semangat mereka membuktikan bahwa data berkualitas lahir dari kerja lapangan yang penuh dedikasi.

Data awal dari berbagai daerah juga memperlihatkan progres yang menggembirakan. Sebagai contoh, di Kecamatan Tombolopao, Gowa, Sulawesi Selatan, hingga 19 Juli 2026 rata-rata pencacahan telah mencapai sekitar 57,15 persen, bahkan beberapa petugas berhasil menuntaskan lebih dari 50 persen wilayah kerjanya. Capaian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan SE2026 berjalan sesuai target meskipun karakteristik wilayah berbeda-beda. 

Satu bulan pelaksanaan sensus juga memperlihatkan betapa besarnya kontribusi sektor usaha mikro dan kecil terhadap perekonomian Indonesia. Warung, pedagang kaki lima, penjahit, bengkel, hingga pelaku usaha digital menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Sayangnya, banyak usaha kecil yang selama ini belum terdokumentasi secara baik. Melalui SE2026, keberadaan mereka akhirnya memperoleh pengakuan dalam statistik resmi negara sehingga dapat menjadi dasar penyusunan program yang lebih tepat sasaran. 

Hal lain yang menarik adalah semakin berkembangnya ekonomi digital. Banyak pelaku usaha yang bahkan tidak memiliki toko fisik karena seluruh transaksi dilakukan melalui media sosial atau marketplace. Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi pendataan statistik. Jika metode sensus tidak mampu mengikuti perkembangan zaman, maka sebagian aktivitas ekonomi berpotensi luput dari pencatatan. Karena itu, SE2026 menjadi langkah penting untuk memperbarui basis data ekonomi Indonesia sesuai realitas saat ini.

Secara nasional, pelaksanaan SE2026 merupakan pekerjaan besar. BPS melibatkan sekitar 251 ribu petugas sensus yang melakukan pendataan terhadap sekitar 95,3 juta keluarga di seluruh Indonesia. Skala pekerjaan ini menunjukkan bahwa sensus ekonomi bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan investasi besar negara untuk menghasilkan data yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat. 

Namun demikian, keberhasilan sensus tidak hanya bergantung pada petugas BPS. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penentu. Semakin jujur dan lengkap informasi yang diberikan oleh pelaku usaha, semakin berkualitas pula data yang dihasilkan. Pada akhirnya, data tersebut akan menjadi dasar pemerintah dalam merancang kebijakan investasi, pemberdayaan UMKM, penciptaan lapangan kerja, hingga pemerataan pembangunan ekonomi di berbagai daerah. 

Setelah satu bulan pelaksanaan, saya melihat Sensus Ekonomi 2026 bukan hanya tentang menghitung jumlah usaha, melainkan tentang menghargai setiap ikhtiar ekonomi masyarakat Indonesia. Dari warung kecil di pelosok desa hingga perusahaan besar di perkotaan, semuanya memiliki peran dalam membangun bangsa. Semoga semangat kolaborasi antara petugas dan masyarakat terus terjaga hingga akhir pelaksanaan sensus, sehingga Indonesia memiliki data ekonomi yang semakin akurat sebagai pijakan menuju pembangunan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Oleh: Akbar G

    Berita Terkait

    Cover
    Opini

    Antara Teks dan Konteks: Dilema Tafsir Al-Qur'an di Era Kontemporer

    BeritaBenua.com 21 hari lalu

    Baca
    Cover
    Opini

    Dari Surat Dinas hingga Laporan Kinerja: Saatnya ASN Berdampingan dengan AI

    BeritaBenua.com 22 hari lalu

    Baca
    Cover
    Opini

    Berita Opini: Interpretasi Modern dan Wanita, Menafsirkan Kembali Pesan Al-Qur’an di Zaman Kini

    Mujdalifa 26 hari lalu

    Baca
    Cover
    Opini

    Tafsir Modern Kontemporer: Menjembatani Nilai Al-Qur’an dengan Tantangan Zaman

    HAFIZA TUL KIFAYA 26 hari lalu

    Baca
    Cover
    Opini

    Menggugat Menara Gading: DEMA Menagih Kittah Mahasiswa di Kampus UIAD Sinjai

    BeritaBenua.com 28 hari lalu

    Baca
    Satu Bulan Sensus Ekonomi 2026: Bukan Sekadar Mendata, Tetapi Memotret Wajah Baru Ekonomi Indonesia - Berita Benua