Kongres XVII HIPPMAS: Saatnya Melompat, Bukan Mengulang Siklus Lama

BeritaBenua.com —
avatar
NURrr AminnPenulis
Gambar Sampul

MAKASSAR, Beritabenua – Setiap memasuki musim Kongres Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sinjai (HIPPMAS), selalu ada dinamika menarik untuk dicermati: kandidat yang tiba-tiba bermunculan, organisasi naungan yang kembali “hidup”, hingga senior yang mulai ikut menentukan arah kontestasi.

Kini Kongres XVII tinggal menghitung hari. HIPPMAS telah memasuki usia setengah abad. Namun hampir satu dekade terakhir, organisasi ini justru terus berhadapan dengan krisis eksistensi dan dualisme kepemimpinan. Sejak 2015 hingga Kongres 2022, persoalan tersebut belum sepenuhnya terselesaikan. Karena itu, semangat rekonsiliasi yang kembali menguat patut diapresiasi. Tetapi rekonsiliasi tidak cukup hanya dengan menyatukan forum; akar persoalan juga harus dibenahi.

Salah satunya adalah persoalan intervensi. Campur tangan pemerintah daerah, pengaruh kelompok-kelompok tertentu, serta penyelenggaraan forum yang dipersepsikan tidak netral harus menjadi bahan evaluasi serius.

Menjelang Kongres XVII, muncul pula sorotan mengenai sejumlah DPC, DPK, DPD, lembaga otonom, dan lembaga kekaryaan yang di-PLT-kan oleh DPP tanpa melalui musyawarah internal masing-masing organisasi. Jika benar demikian, pertanyaannya sederhana: apakah organisasi sedang dihidupkan, atau justru sedang dipersiapkan menjadi instrumen dalam kontestasi?

Bayangkan jika posisi PLT justru diisi oleh mereka yang telah puluhan tahun meninggalkan bangku kampus. Persoalannya bukan semata soal usia, melainkan soal regenerasi. Bagaimana mungkin organisasi mahasiswa membangun kaderisasi jika ruang kepemimpinan justru terus kembali kepada orang-orang yang sudah lama meninggalkan dunia kemahasiswaan?

Ditambah lagi muncul isu mengenai penambahan Steering Committee menjelang kongres untuk mengakomodasi kelompok tertentu. Isu semacam ini tentu perlu dijelaskan secara terbuka. Sebab semangat rekonsiliasi akan kehilangan makna apabila prosesnya sejak awal dipersepsikan tidak adil dan tidak transparan.

Dari 29 organisasi yang berada di bawah naungan HIPPMAS, hanya sebagian kecil yang terlihat aktif secara konsisten. Namun setiap kongres tiba, organisasi yang sebelumnya nyaris tidak terdengar kembali muncul. Para pentolannya pun kembali sibuk mencari posisi strategis. Tidak mengherankan jika kemudian muncul kritik bahwa HIPPMAS seolah hanya hidup ketika musim kongres tiba.

Lebih memprihatinkan, pertanyaan terhadap kandidat pun mengalami pergeseran. Bukan lagi “apa gagasanmu untuk HIPPMAS?”, melainkan:

“Berapa uang yang kau siapkan?”

“Siapa yang menjadi bekingmu?”

Jika modal dan jaringan menjadi ukuran utama, lalu di mana posisi gagasan, kaderisasi, dan rekam jejak pengabdian?

Keterlibatan senior tentu bukan persoalan. Namun menjadi masalah ketika kepentingan politik ikut terlalu jauh memengaruhi organisasi mahasiswa. HIPPMAS tidak boleh kehilangan arah hanya karena menjadi arena kepentingan kelompok tertentu.

Kongres seharusnya menjadi ruang pertarungan gagasan, bukan pertarungan modal, jaringan, dan pengaruh.

Karena itu, eksistensi HIPPMAS kembali diuji pada tahun ini. Kongres XVII harus menjadi momentum untuk melakukan lompatan besar, bukan sekadar mengulang siklus lama: konflik, dualisme, rekonsiliasi, kemudian kembali konflik.

HIPPMAS memang memiliki sejarah besar. Tetapi sejarah tidak cukup untuk membuat organisasi tetap relevan. Dalam satu dekade terakhir, kontribusi nyata HIPPMAS terhadap daerah justru semakin jarang terlihat. Kita tentu tidak sedang menafikan jasa para pendahulu, tetapi sejarah harus menjadi pijakan untuk bekerja hari ini, bukan sekadar kebanggaan yang terus diceritakan.

Setengah abad usia HIPPMAS seharusnya menjadi alasan untuk bergerak lebih jauh: memperkuat kaderisasi, menghidupkan organisasi naungan, menjaga independensi forum, memberi ruang kepada generasi baru, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi daerah.

Pada akhirnya, pertanyaan Kongres XVII bukan sekadar siapa yang paling kuat menjadi Ketua Umum, tetapi:

Siapa yang benar-benar siap menghidupkan kembali HIPPMAS?

Sebab HIPPMAS bukan milik kandidat, senior, DPP, ataupun kelompok tertentu.

HIPPMAS adalah milik kader dan seluruh organisasi yang masih percaya bahwa masa depan HIPPMAS harus diperjuangkan, bukan sekadar diperebutkan.

Penulis: Muh. Dolli (Warga Hippmas)

    Berita Terkait

    Cover
    Opini

    Satu Bulan Sensus Ekonomi 2026: Bukan Sekadar Mendata, Tetapi Memotret Wajah Baru Ekonomi Indonesia

    BeritaBenua.com 24 hari lalu

    Baca
    Cover
    Opini

    Antara Teks dan Konteks: Dilema Tafsir Al-Qur'an di Era Kontemporer

    BeritaBenua.com sekitar 1 bulan lalu

    Baca
    Cover
    Opini

    Dari Surat Dinas hingga Laporan Kinerja: Saatnya ASN Berdampingan dengan AI

    BeritaBenua.com sekitar 2 bulan lalu

    Baca
    Cover
    Opini

    Berita Opini: Interpretasi Modern dan Wanita, Menafsirkan Kembali Pesan Al-Qur’an di Zaman Kini

    Mujdalifa sekitar 2 bulan lalu

    Baca
    Cover
    Opini

    Tafsir Modern Kontemporer: Menjembatani Nilai Al-Qur’an dengan Tantangan Zaman

    HAFIZA TUL KIFAYA sekitar 2 bulan lalu

    Baca