GOWA, Beritabenua.com- Permainan tradisional sering disebut juga dengan permainan rakyat, merupakan permainan yang tumbuh dan berkembang pada masa lalu terutama tumbuh di masyarakat pedesaan, permainan tradisional seperti menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat khususnya anak-anak.
Taman Baca Nurul Jihad kembali memperkenalkan berbagai macam permainan tradisional kepada para peserta didik, salah satunya yakni enggo-enggo’.
DEMA UIAD Sinjai Jadi Tuan Rumah Rakorwil BEM PTMA Indonesia Timur 2026
Arrang Saz • sekitar 1 jam lalu
Berita Terkini
Gagas Tema Kolonialisme Modern, HMI Sinjai Putar Film “Pesta Babi”
BeritaBenua.com • sekitar 3 jam lalu
Berita Terkini
Bertempat di halaman rumah warga, permainan ini dimainkan oleh peserta didik baik itu laki- laki ataupun perempuan dan berbagai jenis usia. Rabu (08/05/2024).
“Ini merupakan salah satu program kerja kami di Kelas Permainan Tradisonal sejak tahun 2012. Enggo-enggo dimainkan dengan cara menyusun 3 buah ranting kayu sehingga membentuk piramida. Kemudian, yang ikut bermain melemparnya dari jarak yang ditentukan. Siapapun dari peserta permainan ini yang tidak mengenai kayu tersebut, maka dialah yang bertugas untuk menjaganya setelah disusun sembari peserta yang lain berpencar bersembunyi dan selanjutnya bersiap menyerang dan merobohkan kayu yang berbentuk piramida tersebut. Singkatnya, permainan ini seperti menyerang dan mempertahankan benteng yang dibuat dari kayu,”ungkap Akbar G atau yang lebih akrab disapa Emil selaku Founder Rumah Baca Nurul Jihad.
Tersangka Diduga Hilang dari Pengawasan, Keluarga Korban Desak Evaluasi Total Polsek Makassar
BeritaBenua.com • sekitar 7 jam lalu
Berita Terkini
Gudang Farmasi di Dg.Tata Viral, KPPM: Pak Wali Cuman Gusur, Perda Dalam Kota lupa Ditegakkan
BeritaBenua.com • sekitar 24 jam lalu
Berita Terkini
Permainan tradisional ini ternyata memiliki manfaat tersendiri untuk anak yang memainkannya.
“Enggo-enggo’ memang tidak didukung dengan kecanggihan teknologi terbaru, seperti permaianan teknologi modern seperti saat ini. Akan tetapi, bisa menciptakan suasana yang menyenangkan. Selain itu tentu saja tidak membutuhkan biaya banyak. Hanya bermodalkan ranting kayu, permainan ini sudah bisa dimainkan. Akan tetapi, harus juga dibarengi pengawasan orang dewasa sebab bisa saja ada anak-anak yang terkena lemparan kayu,” tambah Emil.
Sementara itu, Nasrun (17), salah satu peserta didik yang ikut bermain mengaku senang sekali dengan adanya permainan ini.
“Kita dapat belajar berkomunikasi, menjelaskan strategi, menunjukkan kerja sama, dan bertoleransi terhadap teman. Ini merupakan hal baik untuk dipelajari. Memang sepatutnyalah permainan tradisional seperti ini harus terus dilestarikan,” tutupnya.





