Karangan Bunga dan Amanah Kekuasaan, Catatan Kritis untuk Kapolres Sinjai yang Baru

BeritaBenua.com —
MusaddaqPenulis
Gambar Sampul

OPINI, Beritabenua— Deretan karangan bunga ucapan selamat atas pelantikan Kapolres Sinjai yang baru tampak menghiasi sudut Kota Sinjai, khususnya di kawasan segitiga Tugu Topekkong dan Pekuburan Demmaq. Dua titik ini bukan sekadar ruang publik biasa, melainkan situs sejarah yang sarat makna dan pesan peradaban.

‎Tugu Topekkong dikenal sebagai tempat lahirnya kesepakatan damai monumental pada tahun 1564 M antara Kerajaan Gowa, Bone, dan Konfederasi Tellu Limpoe. Sebuah perjanjian luhur yang mengakhiri konflik berkepanjangan melalui simbol batu besar penanda persatuan, tolong-menolong, tidak saling memusuhi, dan mengedepankan kebaikan bersama.

Lihat Juga

‎Sementara Pekuburan Demmaq merupakan situs religi dan sejarah yang menyimpan jejak perlawanan terhadap kolonialisme, proses islamisasi, nilai cagar budaya, serta makam Raja Bulo-bulo. Di sana tersimpan spirit keberanian, religiusitas, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

‎Keberadaan karangan bunga di antara dua situs besar ini seolah menemukan konteksnya sendiri. Pelantikan seorang pejabat, terlebih Kapolres, sejatinya bukan sekadar seremoni serah terima jabatan, melainkan alarm kesadaran atas amanah besar yang dipikul. Jabatan adalah ujian, bukan hadiah. Kekuasaan adalah tanggung jawab, bukan kemewahan.

Lihat Juga

Pesan-pesan leluhur yang terpatri di Topekkong tentang solidaritas, kemanusiaan, dan kebaikan serta spirit Demmaq tentang keberanian dan nilai religius, sangat relevan dijadikan cermin bagi setiap pengambil kebijakan. Pesan itu bukan pepesan kosong. Ia adalah harapan kolektif.

‎Kantor Polres Sinjai yang diapit dua situs sejarah besar tersebut semestinya menjadi pengingat abadi. Siapa pun pemimpinnya, dari mana pun asalnya, dan apa pun latar mazhabnya, idealnya selalu menoleh ke sejarah sebelum menetapkan kebijakan. Agar setiap keputusan lahir dari kejernihan nurani, bukan dari kalkulasi kekuasaan semata. Dengan harapan, setiap goresan pena dan tindakan bernilai ibadah serta membawa maslahat bagi sekitar 274.440 jiwa masyarakat Sinjai.

‎Kapolres Sinjai, karangan bunga itu adalah simbol harapan. Harapan akan terciptanya keamanan dan ketertiban, penegakan hukum yang adil, serta perlindungan dan pengayoman yang nyata. Tak lebih, tak kurang.

‎Namun harus diakui, institusi kepolisian saat ini tengah berada dalam pusaran turbulensi. Sorotan publik kian tajam mulai dari isu rekrutmen, penanganan kasus yang sarat dugaan suap, hingga keterlibatan oknum dalam praktik mafia BBM, tambang ilegal, parcok, kriminalisasi, dan pembekingan bisnis gelap. Rangkaian persoalan ini yang kemudian memantik tuntutan reformasi kepolisian.

‎Reformasi yang menurut KBBI berarti perubahan drastis ke arah perbaikan tidak boleh berhenti sebagai jargon. Survei kepuasan publik terhadap Polri yang mencapai 79,8 persen patut diuji: apakah benar terasa di lapangan, atau sekadar indah di atas kertas? Entahlah.

‎Yang pasti, Polri harus terus membenahi tata kelola, melakukan refleksi mendalam, serta mengembalikan Tri Brata sebagai fondasi moral dan Catur Prasetya sebagai pedoman sikap dan perilaku. Tanpa itu, institusi ini akan terus menjadi sasaran kritik publik.

‎Dalam konteks lokal, kepemimpinan di Sinjai sepatutnya diikatkan pada nilai luhur budaya Bugis, yang dikenal dengan falsafah Appa’ Cappa’:

‎Cappa Lila (ujung lidah): menjaga tutur kata agar tidak melukai, memicu konflik, atau mencederai rasa keadilan.

‎Cappa’Ada (ujung kata/janji): menegakkan kejujuran dan tanggung jawab atas setiap ucapan dan komitmen.

‎Cappa Kawali (ujung badik): simbol keberanian dan kehormatan diri (siri’), digunakan untuk membela keadilan, bukan menindas.

‎Cappa Sara (ujung hukum/syariat): ketaatan pada hukum, adat, dan nilai agama sebagai penuntun kehidupan bermasyarakat.

‎Selamat datang Kapolres Sinjai, AKBP Jamal Fathurakhman, S.IK., MH.

‎Mohon maaf, saya tidak menghadirkan karangan bunga sebagai ucapan selamat. Biarlah ucapan itu terwakili melalui sebuah baliho kecil kreasi HMI MPO Cabang Sinjai yang bertuliskan:

‎“Selamat Datang Kapolres Sinjai AKBP Jamal Fathurakhman, S.IK., MH.

‎Alhamdulillah atas kepergian sang mantan.”

‎‎Yang pergi meninggalkan beban.

‎Yang datang diuji keberaniannya.

Berita Terkait

Cover
Opini

Mercu Suar Penerang Jagat Akan Segera Muncul Dari Indonesia

Jacob Ereste (Tim) hampir 2 tahun lalu

Baca
Cover
Berita Terkini

Dialog dan Himbauan Dari Forum Gantha Sahitya "Untuk Indonesia Damai”

Jacob Ereste (Tim) hampir 2 tahun lalu

Baca
Cover
Opini

Pernah Disakiti? Mari Merefleksikan Ingatan

BeritaBenua.com sekitar 2 tahun lalu

Baca
Cover
Opini

Refleksi Pemuda ORMAS Dalam Menanggapi Acara MENS REA

BeritaBenua.com 9 hari lalu

Baca
Cover
Opini

Selamat Tinggal? Media Lokal Kaltara Terancam Tutup Serentak!

BeritaBenua.com 9 hari lalu

Baca
Karangan Bunga dan Amanah Kekuasaan, Catatan Kritis untuk Kapolres Sinjai yang Baru - Berita Benua