OPINI, Beritabenua-- Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sejarah mencatat bahwa penyebaran Islam bukanlah proses yang mudah. Nabi Muhammad SAW menghadapi hinaan, caci maki, bahkan kekerasan. Namun, dalam kondisi seberat apa pun, beliau tetap menyampaikan dakwah dengan kelembutan, kesabaran, dan akhlak yang luhur. Cara inilah yang justru menguatkan Islam, bukan melemahkannya.
Belakangan ini, ruang publik dihebohkan oleh acara komedi Mens Rea yang dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo. Dalam salah satu segmennya, Pandji menyinggung isu keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas) berbasis agama dalam pengelolaan tambang. Pernyataan tersebut merujuk pada pandangan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, yang pada intinya menyampaikan bahwa ormas membutuhkan pembiayaan untuk kemaslahatan umat, sehingga pengelolaan sumber daya termasuk tambang oleh ormas Islam dianggap sah-sah saja selama berada dalam koridor hukum, Namun, materi komedi tersebut dipahami oleh sebagian kalangan sebagai bentuk "penjualan agama" dan dinilai tidak pantas. Hal ini kemudian memicu aksi sejumlah pemuda ormas yang menyuarakan protes keras, bahkan menuding adanya penghinaan dan penistaan agama.
Selamat Tinggal? Media Lokal Kaltara Terancam Tutup Serentak!
BeritaBenua.com • sekitar 11 jam lalu
Opini
Bebas Aktif di Dunia yang Retak: Ke Mana Arah Diplomasi Indonesia?
BeritaBenua.com • 4 hari lalu
Opini
Dari sini, muncul pertanyaan penting apakah respons yang ditunjukkan oleh para pemuda ormas tersebut sudah tepat dan mencerminkan nilai-nilai Islam? Penulis berpandangan bahwa setiap pernyataan di ruang publik perlu dicerna dengan kepala dingin. Islam sejatinya tidak pernah mengajarkan perlawanan terhadap kebatilan dengan kekerasan atau kemarahan yang berlebihan. Justru, Islam mengajarkan tabayyun (klarifikasi), kesabaran, dan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan pandangan, pemuda terutama pemuda ormas seharusnya terlebih dahulu memahami latar belakang munculnya suatu pernyataan. Jangan sampai semangat membela agama justru berubah menjadi sikap reaktif yang mengabaikan nilai-nilai Islam itu sendiri. Kita perlu jujur mengakui bahwa manusia memiliki kecenderungan merasa paling benar dan mudah tersulut emosi. Padahal, Nabi Muhammad SAW yang menerima wahyu secara langsung tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan.
Ormas-ormas Islam didirikan oleh para ulama dengan niat luhur: menjaga agama, umat, dan persatuan. Sangat disayangkan apabila ormas justru rusak dari dalam akibat sikap pengurus atau kadernya yang tidak mampu mengendalikan diri. Jika pemuda ormas membalas kritik atau satire dengan kemarahan dan tindakan berlebihan, justru hal itu dapat menguatkan stigma negatif yang dikritik dalam acara tersebut, dalam sistem demokrasi, kritik dan ekspresi pendapat merupakan hal yang sah. Namun, respons yang berlebihan terhadap suatu pernyataan terlebih dalam bentuk amarah atau intimidasi berpotensi melahirkan mudarat yang lebih besar. Bahkan ketika Islam dihina sekalipun, jika umatnya merespons dengan akhlak mulia dan tanpa kekerasan, maka Islam justru akan tampak lebih luhur di mata mereka yang bukan pemeluknya.
Kasus Ceklok Sinjai, Kepastian Hukum, dan Bayang-Bayang Kekuasaan
Penulis: Syahrul Gunawan, S.H., M.H. • 13 hari lalu
Opini

Organisasi yang mengatasnamakan Islam semestinya menjadi teladan dalam bersikap. Baik pujian maupun hinaan, jika ditanggapi secara tidak bijak, dapat menghancurkan martabat individu maupun institusi. Oleh karena itu, sudah saatnya kita khususnya para pemuda ormas bersikap lebih dewasa, cerdas, dan reflektif dalam menanggapi setiap pernyataan yang muncul di ruang publik.
Oleh : Aqil Abdan Syakuran (Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)





