JAKARTA, Beritabenua—Pemerintah bergerak cepat merespons tekanan energi global dengan merancang kebijakan kerja dari rumah (work from home/WFH) satu hari dalam sepekan. Skema ini ditujukan untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional yang terus tertekan oleh dinamika harga energi dunia.
Aturan Baru Berlaku, Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Terancam Dinonaktifkan
Arrang Saz • sekitar 3 jam lalu
Berita Terkini
Batas Belanja Pegawai 30 Persen Bayangi Keberlanjutan PPPK di Sinjai
Arrang Saz • sekitar 16 jam lalu
Berita Terkini
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan kebijakan tersebut telah difinalisasi dan tinggal menunggu pengumuman resmi. Hari Jumat dipilih sebagai waktu pelaksanaan, dengan pertimbangan durasi kerja yang relatif lebih singkat sehingga dinilai tidak mengganggu ritme produktivitas aparatur negara. Dilansir dari detikNews, Jumat 27 Maret 2026.
Sudah Tiga Kali Disomasi, Wabup Gowa Belum Lunasi Utang Miliaran Rupiah
BeritaBenua.com • sekitar 19 jam lalu
Berita Terkini
Pelayanan Kesehatan Gratis di Daerah Terpencil, Kadis Kesehatan Sinjai Turun Langsung ke Dusun Tonrong
BeritaBenua.com • 2 hari lalu
Berita Terkini
Kebijakan ini menyasar aparatur sipil negara, baik pegawai negeri sipil (PNS) maupun pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Sementara itu, sektor swasta tidak diwajibkan, namun didorong untuk mengikuti melalui mekanisme imbauan. Pemerintah juga menegaskan bahwa layanan publik esensial dan sektor yang membutuhkan kehadiran fisik tetap berjalan normal.
Dalam kalkulasi awal, pemerintah memperkirakan kebijakan ini berpotensi memangkas konsumsi BBM hingga 20 persen. Pengurangan mobilitas harian menjadi kunci utama, terutama di wilayah perkotaan dengan tingkat penggunaan kendaraan yang tinggi.
Langkah ini tidak bisa dilepaskan dari kekhawatiran atas potensi krisis energi global, yang dipicu ketegangan geopolitik, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah. Lonjakan harga minyak dunia menjadi variabel yang memaksa banyak negara, termasuk Indonesia, mencari strategi adaptif untuk menjaga stabilitas pasokan dan konsumsi energi domestik.
Di sisi lain, pemerintah juga melihat peluang dari pola kerja fleksibel ini. Selain efisiensi energi, WFH dinilai dapat menjaga produktivitas, bahkan membuka ruang bagi transformasi budaya kerja yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Namun, seperti kebijakan lain yang menyentuh birokrasi luas, implementasi WFH akan menjadi ujian tersendiri. Disiplin kerja, sistem pengawasan, hingga kesiapan infrastruktur digital menjadi faktor penentu keberhasilan. Tanpa itu, efisiensi yang diharapkan bisa berbalik menjadi penurunan kinerja layanan publik.
Pemerintah kini berpacu dengan waktu untuk merampungkan detail teknis sebelum kebijakan ini resmi diberlakukan—sebuah langkah yang tidak hanya menyasar penghematan energi, tetapi juga menguji kesiapan birokrasi memasuki pola kerja baru.





