SINJAI, Beritabenua— Maraknya pencurian ternak di Desa Lembang Lohe, Kecamatan Tellulimpoe, Sinjai, kembali memantik keresahan warga. Dalam beberapa bulan terakhir, sedikitnya 30 ekor sapi milik warga dinyatakan hilang secara misterius, terutama di Dusun Tippulue. Situasi ini membuat warga hidup dalam kecemasan, bahkan saat ternak berada di kandang sendiri.
Kajian Jurnalistik Mahasiswa Perairan Sinjai, Menakar Nalar di Ruang Sederhana
Arrang Saz • sekitar 9 jam lalu
Berita Terkini
Pemerintah Rancang Kebijakan WFH untuk Menekan Penggunaan BBM Nasional
Arrang Saz • sekitar 15 jam lalu
Berita Terkini
Sejumlah warga menuturkan, pola kehilangan ternak kali ini berbeda dari sebelumnya. Selain sapi yang raib tanpa jejak, korban juga didatangi orang tak dikenal yang menawarkan “bantuan” untuk mengembalikan ternak dengan syarat sejumlah uang. Nilainya tidak kecil—mencapai jutaan rupiah.
Aturan Baru Berlaku, Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Terancam Dinonaktifkan
Arrang Saz • sekitar 15 jam lalu
Berita Terkini
Batas Belanja Pegawai 30 Persen Bayangi Keberlanjutan PPPK di Sinjai
Arrang Saz • 1 hari lalu
Berita Terkini
“Kalau mau kembali, harus bayar. Tapi tidak semua yang bayar itu sapinya benar-benar kembali,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.
Praktik tersebut memunculkan dugaan bahwa pencurian tidak lagi berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola yang lebih terorganisir. Warga menduga kuat adanya komplotan atau sindikat yang bekerja secara sistematis di wilayah Tellulimpoe.
Isyal Aprisal, warga setempat, mengatakan kasus kehilangan sapi bukan hal baru di daerah itu. Namun, intensitas dan pola kejadian belakangan ini dinilai semakin mengkhawatirkan.
“Tellulimpoe seolah tidak pernah benar-benar aman dari penculikan sapi. Ini berulang dan masyarakat terus dirugikan,” kata Isyal, Ahad, 29 Maret 2026.
Menurut dia, persoalan ini tidak sekadar menyangkut kehilangan ternak, tetapi juga menyentuh rasa aman warga. Para peternak, yang menggantungkan hidup dari ternak mereka, kini dihantui ketakutan setiap hari.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lain yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai aparat belum menunjukkan langkah konkret yang mampu memutus rantai pencurian.
“Kami ini takut. Bukan cuma kehilangan sapi, tapi juga takut kalau melapor atau bicara. Seolah-olah mereka tahu siapa yang jadi korban,” ujarnya.
Warga berharap aparat kepolisian bersama pemerintah daerah segera turun tangan secara serius. Mereka mendesak penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap dugaan sindikat di balik kasus tersebut.
Isyal menegaskan, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan tegas, bukan tidak mungkin masyarakat akan mengambil langkah sendiri.
“Jangan sampai masyarakat merasa dibiarkan. Kami hanya ingin rasa aman dan keadilan ditegakkan,” katanya.
Hingga kini, warga Tellulimpoe masih menunggu langkah konkret aparat untuk mengusut kasus tersebut. Mereka berharap pelaku dapat segera ditangkap dan diproses hukum, agar kejadian serupa tidak terus berulang.





