MAKASSAR, Beritabenua — Ketua Aliansi Makassar Cerdas Digital (AMCG), Ilyas Maulana, mengecam seruan untuk menggeruduk Fanny Frans di tengah polemik yang berkembang di media sosial. Ia menilai, ajakan semacam itu berpotensi memperkeruh keadaan dan bukan cara yang tepat untuk menyikapi perbedaan pendapat.
Amran Wahid Uji Disertasi S3 di Unhas, Soroti Isomorfisme Kelembagaan dan SDM Aparatur
BeritaBenua.com • 1 hari lalu
Berita Terkini
Karhutla Terjadi di Sejumlah Kecamatan, PMII Sinjai Desak Pemerintah Daerah dan APH Bertindak Tegas
BeritaBenua.com • 2 hari lalu
Berita Terkini
Ilyas menegaskan, reaksi Fanny Frans di media sosial harus dipahami dalam konteks seorang ibu yang berusaha membentengi anaknya ketika kehormatan sang anak direndahkan. Menurutnya, respons emosional dalam situasi seperti itu merupakan hal yang manusiawi.
Politeknik BPOM Segera Masuki Tahap Baru, Taruna Ikrar Ungkap Lahan Hibah di Maros Siap Dimanfaatkan
BeritaBenua.com • 2 hari lalu
Berita Terkini
GSMM Suarakan Bahaya Geng Motor, Andi Saeful Desak Polrestabes Makassar Prioritaskan Pencegahan
NURrr Aminn • 2 hari lalu
Berita Terkini
“Fanny Frans adalah ibu yang kuat. Ketika anaknya menjadi sasaran ejekan, wajar jika ia bereaksi dan berusaha melindunginya. Saya kira siapa pun yang berada dalam posisi seorang ibu akan merasakan hal serupa. Jangan hanya menghakimi reaksinya, tetapi pahami juga apa yang melatarbelakanginya,” ujar Ilyas.
Ia mengecam segala bentuk seruan yang berpotensi menjadikan Fanny sebagai sasaran tekanan massa. Perbedaan pandangan, kata dia, seharusnya disampaikan melalui kritik yang beradab, bukan dengan ajakan yang dapat menimbulkan rasa takut atau mengancam keamanan seseorang dan keluarganya.
“Kalau tidak setuju dengan sikap Fanny, sampaikan kritik secara proporsional. Jangan sampai polemik di media sosial berkembang menjadi intimidasi. Kita harus bisa membedakan kritik dengan tindakan yang berpotensi membahayakan atau menekan seseorang,” tegasnya.
Sebagai Ketua AMCG, Ilyas mengingatkan bahwa kecerdasan digital tidak hanya menyangkut kemampuan menggunakan media sosial, tetapi juga kedewasaan dalam berkomunikasi, memeriksa konteks, dan mempertimbangkan dampak dari setiap unggahan maupun seruan.
Menurutnya, publik tidak seharusnya menyoroti reaksi Fanny semata, sementara konteks yang memicunya justru diabaikan. Ia mengajak masyarakat menghentikan penyebaran konten provokatif, tidak ikut memperbesar konflik, serta memberi ruang bagi penyelesaian yang damai dan bertanggung jawab.
“Jangan sampai kita sibuk menghakimi seorang ibu yang membela anaknya, tetapi lupa bahwa persoalan ini menyangkut martabat seorang anak. Hormati hak setiap pihak, hentikan seruan penggerudukan, dan jangan biarkan perbedaan pendapat menghilangkan rasa kemanusiaan,” tutup Ilyas Maulana.





