OPINI, Beritabenua - Di balik hamparan perbukitan hijau yang membentang indah di Desa Bonto Katute, tersimpan sebuah kenyataan yang berbanding terbalik dengan pesona alamnya.
Di sana, terbentang sebuah luka panjang yang seolah tak pernah benar-benar mendapat perhatian.
Karangan Bunga dan Amanah Kekuasaan, Catatan Kritis untuk Kapolres Sinjai yang Baru
Musaddaq • 4 bulan lalu
Opini

Luka itu bukan pada tubuh manusia, melainkan pada urat nadi kehidupan masyarakat: Jalan Poros Bonto Katute kurang lebih 7 Km, khususnya yang melintasi Dusun Coddong dan Dusun Gori-Gori Desa Bonto Katute Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai.
Jalan ini bukan sekadar akses bagi warga setempat. Ia merupakan jalur penghubung yang menghubungkan tiga kecamatan, yakni Sinjai Borong, Sinjai Tengah, dan Sinjai Selatan. Peran strategisnya sangat penting bagi mobilitas masyarakat, distribusi hasil pertanian, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga aktivitas perekonomian sehari-hari.

Bebas Aktif di Dunia yang Retak: Ke Mana Arah Diplomasi Indonesia?
BeritaBenua.com • 5 bulan lalu
Opini
Namun ironisnya, jalan yang memiliki fungsi vital tersebut justru berada dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Menurut penuturan masyarakat, kondisi memprihatinkan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan melewati beberapa periode pergantian kepemimpinan di Kabupaten Sinjai.
Berbagai program pembangunan silih berganti diumumkan, berbagai janji pernah disampaikan, dan berbagai pemimpin telah datang dan pergi. Namun hingga hari ini, kondisi Jalan Poros Bonto Katute, terutama di Dusun Coddong dan Dusun Gori-Gori, belum menunjukkan perubahan yang berarti.
Ketika musim hujan tiba, Jalan Poros tersebut seolah berubah menjadi aliran sungai berlumpur yang membelah perkampungan. Air menggenang di berbagai titik, bercampur dengan tanah yang licin dan lubang-lubang jalan yang menganga.
Pengendara roda dua maupun roda empat harus berjibaku melawan lumpur dan genangan demi mencapai tujuan. Tak jarang aktivitas masyarakat terhambat karena akses transportasi menjadi sulit dan berisiko.
Sebaliknya, saat musim kemarau datang, jalan itu berubah layaknya sungai kering yang dipenuhi bebatuan kasar. Permukaannya yang rusak dan tidak rata menyulitkan perjalanan warga.
Debu beterbangan setiap kali kendaraan melintas, menyelimuti rumah-rumah penduduk, kebun, hingga fasilitas umum di sekitarnya. Kondisi tersebut bukan hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap
kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia yang setiap hari harus menghirup debu dari jalan yang tak kunjung mendapat perhatian pembangunan. Dampak kerusakan jalan ini dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.
Anak- anak harus menempuh perjalanan menuju sekolah dengan risiko yang lebih besar. Para petani mengalami kesulitan mengangkut hasil kebun yang menjadi sumber penghidupan utama mereka.
Pedagang menghadapi hambatan dalam menjalankan aktivitas ekonomi, sementara warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan harus menempuh perjalanan dengan kondisi jalan yang tidak mendukung.
Pada akhirnya, kerusakan infrastruktur ini bukan hanya persoalan fisik, melainkan juga persoalan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Yang lebih menyentuh sekaligus memprihatinkan adalah kenyataan bahwa beberapa bagian jalan yang saat ini relatif lebih mudah dilalui bukanlah hasil pembangunan pemerintah daerah, melainkan hasil gotong royong masyarakat.
Dengan kemampuan yang terbatas, warga secara swadaya melakukan penimbunan dan perbaikan sederhana agar akses tetap dapat digunakan.
Semangat kebersamaan ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi gambaran bahwa warga telah terlalu lama berjuang sendiri menghadapi persoalan yang seharusnya menjadi perhatian bersama. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa jalan bukan hanya hamparan tanah, batu,
atau aspal. Jalan adalah sarana yang menghubungkan masyarakat dengan peluang dan harapan. Jalan yang baik akan memperlancar roda perekonomian, mempermudah akses pendidikan, mempercepat pelayanan kesehatan, serta membuka ruang bagi pertumbuhan dan kemajuan suatu daerah.
Sebaliknya, ketika jalan dibiarkan rusak dalam waktu yang lama, maka dampaknya akan menjalar ke berbagai aspek kehidupan masyarakat. Karena itu, harapan yang disampaikan masyarakat Bonto Katute di dua dusun tersebut, sesungguhnya bukanlah tuntutan yang berlebihan.
Mereka tidak meminta kemewahan, melainkan hanya menginginkan hak yang sama sebagaimana masyarakat di wilayah lain: menikmati akses jalan yang layak, aman, dan nyaman untuk menunjang aktivitas sehari- hari.
Sebagai warga yang turut berkontribusi dalam pembangunan daerah, mereka berhak merasakan hadirnya pembangunan yang merata dan berkeadilan.
Melalui tulisan ini, masyarakat menaruh harapan besar kepada Bupati Sinjai agar memberikan perhatian yang lebih serius terhadap kondisi Jalan Poros Bonto Katute, khususnya di Dusun Coddong dan Dusun Gori-Gori.
Harapan tersebut lahir bukan semata-mata dari keluhan, tetapi dari keinginan untuk melihat daerah ini berkembang dan masyarakatnya memperoleh kesempatan yang sama untuk maju.
Masyarakat percaya bahwa pembangunan yang berkeadilan tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur di pusat kota, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini masih tertinggal.
Kehadiran pemerintah akan terasa nyata ketika kebutuhan dasar masyarakat, termasuk akses jalan yang layak, dapat dipenuhi secara bertahap dan berkelanjutan. Sudah terlalu lama jalan ini menjadi simbol penantian.
Sudah terlalu lama masyarakat menyimpan harapan yang belum terjawab. Kini saatnya Jalan Poros Bonto Katute tidak lagi dikenal sebagai jalan yang terlupakan, melainkan menjadi bukti nyata bahwa pembangunan mampu menjangkau hingga ke pelosok desa.
Sebab kemajuan Kabupaten Sinjai tidak hanya tercermin dari apa yang terlihat di pusat pemerintahan, tetapi juga dari bagaimana pemerintah hadir mendengarkan, memperhatikan, dan menjawab kebutuhan masyarakat hingga ke dusun-dusun yang paling jauh sekalipun. Sudah saatnya Jalan Poros Bonto Katute mendapatkan perhatian yang layak.
Sudah saatnya masyarakat Dusun Coddong dan Dusun Gori-Gori menikmati infrastruktur yang memadai. Dan sudah saatnya harapan panjang yang selama ini diperjuangkan masyarakat dijawab dengan langkah nyata, demi masa depan yang lebih baik bagi seluruh warga Bonto Katute.
Wahai Bupati yang kini memegang amanah, Dengarkan suara rakyat dari gunung danlembah.
Di Coddong dan Gori-Gori harapan masih menyala, Menanti sentuhan pembangunan yang telah lama tiada
Penulis : Si Pacul (Aktivis Lingkungan)





