SINJAI, Baritabenua- Kondisi jalan di Dusun Tonrong, Desa Terasa, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai semakin memprihatinkan.
Jalan semakin rusak parah, sehingga dikeluhkan warga. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda perbaikan dari pemerintah.
Bupati Siap Jadi Ketua Dewan Penasehat Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Sinjai
BeritaBenua.com • sekitar 9 jam lalu
Berita Terkini
AKP Andi Rahmatullah Jadi Lulusan Terbaik PPs S3 UNM
BeritaBenua.com • sekitar 9 jam lalu
Berita Terkini
Hal itu disampaikan langsung Haedir Wahyu Anugra. Menurutnya, Pemerintah Daerah (Pemda) Sinjai seolah menutup mata.
Haedir yang juga merupakan ketua FORUM MAHASISWA SINJAI (FMS) dengan tegas mengkritik sikap Pemda yang dinilai abai terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Warga di Sinjai Tertimpa Musibah Kebakaran, HIMAS Morowali Salurkan Bantuan
BeritaBenua.com • 1 hari lalu
Berita Terkini
HWDI Sulsel dan AMAN SulSel Dorong Pelibatan Disabilitas dalam Kebijakan Daerah di Sinjai
BeritaBenua.com • 1 hari lalu
Berita Terkini
Menurutnya, pemerintah lebih sibuk menanggapi isu-isu viral ketimbang menuntaskan persoalan riil di lapangan.
“Fakta di Dusun Tonrong ini jelas. Jalan rusak bertahun-tahun, masyarakat menderita. Tapi perhatian pemerintah justru tenggelam oleh isu viral yang sifatnya sesaat. Apakah penderitaan rakyat di pedesaan ini tidak cukup penting?” Katanya seraya bertanya. Selasa (23/9/25).
Ia menambahkan, jalan rusak tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak besar terhadap ekonomi warga yang mayoritas petani. Hasil panen sulit dipasarkan karena akses transportasi buruk, sementara anak-anak sekolah pun harus melewati jalur berbahaya setiap hari.
“Kalau pemerintah masih diam, berarti mereka lebih mementingkan pencitraan ketimbang kesejahteraan rakyat. Jalan ini bukan sekadar infrastruktur, tapi urat nadi masyarakat. Pemerintah jangan hanya hadir saat kampanye, lalu menghilang ketika rakyat menagih janji,” tegasnya lagi.
Haedir mendesak agar Pemerintah Kabupaten Sinjai segera mengambil langkah konkret, bukan sekadar wacana. Menurutnya, semakin lama dibiarkan, semakin nyata pula ketidakadilan pembangunan yang dirasakan masyarakat pedesaan.





