SINJAI, Beritabenua- Isu tambang di Kabupaten Sinjai terus bergejolak, menghangatkan jagat maya.
Berbagai respon dari sejumlah elemen bermunculan, bahkan kali ini, tokoh perempuan adat asal Komunitas Adat Ammatowa Kajang turut andil bersuara.
Alfamidi Klarifikasi Program Donasi Sisa Uang Kembalian, Dikelola BAZNAS Pusat Bukan Tingkat Kabupaten
Arrang Saz • sekitar 5 jam lalu
Berita Terkini
Dugaan Donasi dari Sisa Uang Kembalian di Alfamidi Sinjai, Alfamidi dan BAZNAS Sinjai Berikan Klarifikasi Berbeda
Arrang Saz • 1 hari lalu
Berita Terkini
Tendri Itti, perempuan asal komunitas Adat Ammatowa Kajang, Kabupaten Bulukumba ini, ikut menyuarakan penolakan rencana pembangunan tambang emas di Kabupaten Sinjai.
Menurutnya, pembukaan tambang di Sinjai akan membuat masalah baru bagi perempuan adat, bukan hanya kerusakan lingkungan dan ekosistem tapi akan membuat perempuan adat akan kehilangan ruang penghidupan terhadap wilayah adat yang terdampak oleh pembangunan tambang emas.
DPC Gerakan Pemuda Marhaenis Resmi Lahir di Sinjai, Bung Faisal Setiawan Nahkodai Gerakan Perjuangan Pemuda
Arrang Saz • 1 hari lalu
Berita Terkini
Ketika Indonesia dan Denmark Bersinergi, Taruna Ikrar Dorong Inovasi untuk Obat dan Pangan yang Lebih Aman
BeritaBenua.com • 2 hari lalu
Berita Terkini
“Perempuan adat sangat tergantung dengan tanah sebagai sumber kehidupan keluarga secara turun temurun, jika tanah habis maka akan mengakibatkan pengangguran bagi perempuan adat dan akan beralih pekerjaan seperti pergi keluar negeri untuk menjadi TKW dan buruh harian lepas” kata Tendri, Selasa (17/6/25).
Pihaknya menegasakn. Bahwa tambang hanya akan merusak, keuntungannya hanya untuk elit, sementara masyarakat tetap jadi korban.
“Kami perempuan adat tidak butuh tambang tapi kami butuh tanah yang akan dinikamti oleh anak cucu kami secara turun temurun, tanah adalah ruang hidup kami perempuan adat, ketika terjadi penggusuran ruang hidup perempuan adat maka yang paling merasakan dampak besarnya adalah perempuan adat” lengkapnya.





