SINJAI, Beritabenua- Isu tambang di Kabupaten Sinjai terus bergejolak, menghangatkan jagat maya.
Berbagai respon dari sejumlah elemen bermunculan, bahkan kali ini, tokoh perempuan adat asal Komunitas Adat Ammatowa Kajang turut andil bersuara.
Jaga Kesehatan Masyarakat dan Daya Saing Industri, BPOM Tindak Gudang Kosmetik Ilegal
BeritaBenua.com • 1 hari lalu
Berita Terkini
Ketua BEM Hukum UMI Minta Kepala BGN Sulsel dan Korwil Makassar Dievaluasi Pasca Penetapan Tersangka Dadan Hindayana
BeritaBenua.com • 2 hari lalu
Berita Terkini
Tendri Itti, perempuan asal komunitas Adat Ammatowa Kajang, Kabupaten Bulukumba ini, ikut menyuarakan penolakan rencana pembangunan tambang emas di Kabupaten Sinjai.
Menurutnya, pembukaan tambang di Sinjai akan membuat masalah baru bagi perempuan adat, bukan hanya kerusakan lingkungan dan ekosistem tapi akan membuat perempuan adat akan kehilangan ruang penghidupan terhadap wilayah adat yang terdampak oleh pembangunan tambang emas.
PC PMII Sinjai Desak Audit Nasional SPPG dan Mitra MBG Usai Kasus Korupsi BGN
Arrang Saz • 3 hari lalu
Berita Terkini
Resmi Mencalonkan Diri, Taufik–Anugrah Mantapkan Langkah Menuju Pilpresma UIT 2026–2027
Nur Amin • 3 hari lalu
Berita Terkini
“Perempuan adat sangat tergantung dengan tanah sebagai sumber kehidupan keluarga secara turun temurun, jika tanah habis maka akan mengakibatkan pengangguran bagi perempuan adat dan akan beralih pekerjaan seperti pergi keluar negeri untuk menjadi TKW dan buruh harian lepas” kata Tendri, Selasa (17/6/25).
Pihaknya menegasakn. Bahwa tambang hanya akan merusak, keuntungannya hanya untuk elit, sementara masyarakat tetap jadi korban.
“Kami perempuan adat tidak butuh tambang tapi kami butuh tanah yang akan dinikamti oleh anak cucu kami secara turun temurun, tanah adalah ruang hidup kami perempuan adat, ketika terjadi penggusuran ruang hidup perempuan adat maka yang paling merasakan dampak besarnya adalah perempuan adat” lengkapnya.





