GOWA, Beritabenua–Peristiwa penikaman yang terjadi di lingkungan UIN Alauddin Makassar disertai pengeroyokan, pada 29/8/2025. Terhadap seorang mahasiswa bernama Muslimin meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) angkatan 2021.
Salah satu mahasiswa, Isyal Aprisal, yang juga merupakan teman dekat korban, menyatakan bahwa aksi solidaritas yang muncul bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, mahasiswa Saintek sejak lama dikenal menjunjung tinggi kebersamaan, kepedulian, dan keberanian untuk bersuara menghadapi ketidakadilan.
Rumah Warga Turungan Baji Roboh Tertimpa Pohon, Pemuda Minta Pemda Sinjai Hadir
BeritaBenua.com • 4 hari lalu
Berita Terkini

Ironisnya, insiden ini terjadi di hari ketiga rangkaian penyambutan mahasiswa baru. Momentum yang seharusnya menjadi ajang mempererat kekeluargaan dan membangun semangat akademik justru berubah menjadi tragedi yang menorehkan rasa takut di kalangan civitas akademika.
Situasi kian memanas setelah insiden tersebut memicu bentrokan antara mahasiswa Fakultas Saintek dan Fakultas Syariah. Dalam beberapa kesempatan, mahasiswa Saintek mengaku melakukan pembelaan diri sekaligus menunjukkan solidaritas terhadap korban. Kondisi ini dinilai sebagai bukti bahwa pihak kampus gagal menciptakan rasa aman sekaligus mencegah konflik horizontal antar mahasiswa.
Jelang HUT RI ke-81, Warga di Turungan Baji Sinjai Barat Justru Sibuk Swadaya Perbaiki Jalan Rusak
BeritaBenua.com • 8 hari lalu
Berita Terkini
Semarak HUT RI ke-81, Corner & Clean Gelar Turnamen Domino Cup I 2026
Arrang Saz • 8 hari lalu
Berita Terkini
Hingga berita ini diturunkan, pihak kampus belum menunjukkan langkah tegas untuk mengusut tuntas kasus tersebut maupun memastikan keamanan lingkungan kampus. Padahal, UIN Alauddin Makassar dikenal sebagai “kampus peradaban” yang semestinya menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan bermartabat.
Melalui pernyataan sikapnya, mahasiswa Fakultas Saintek menyerukan lima poin tuntutan:
1. Pihak kampus segera mengambil langkah nyata untuk menjamin keamanan dan kenyamanan mahasiswa.
2. Aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus penikaman dan pengeroyokan terhadap Muslimin.
3. Kampus dan fakultas hadir sebagai penengah untuk meredam konflik horizontal antar mahasiswa.
4. Mengembalikan esensi penyambutan mahasiswa baru sebagai ajang membangun solidaritas dan semangat akademik, bukan arena pertikaian.
5. Menolak segala bentuk kekerasan di kampus yang dinilai bertentangan dengan nilai akademik dan peradaban.
“Solidaritas Saintek akan tetap kokoh. Kampus seharusnya menjadi rumah yang aman, bukan ladang konflik,” tegas Isyal.





