SINJAI, Beritabenua — Di tengah maraknya isu nasional yang merambah hingga ke pelosok daerah, termasuk Kabupaten Sinjai, mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Administrasi Publik tak tinggal diam. Di bawah arahan Ketua Umum, Muh Adam Syah, para kader menggelar kajian dan diskusi bertajuk “Tidak Ada Kabar Baik Indonesia: Demokrasi Dalam Kabut Gas Air Mata” pada Minggu, 31 Agustus 2025, di Lapnas, Sinjai.
Diskusi ini dipantik oleh dua kader, Galang Al Faruq dan Israil, serta dimoderatori oleh Kiki. Kegiatan tersebut dihadiri oleh para anggota HMJ Administrasi Publik sebagai bentuk refleksi atas situasi sosial dan politik yang sedang terjadi.
Kejari Sinjai Musnahkan Barang Bukti 48 Perkara, Sabu hingga 839 Butir Trihexyphenidyl
Arrang Saz • 3 hari lalu
Berita Terkini
Jalan Rusak di Wajo Jadi Sorotan, Eks Sekjen DEMA UINAM: Masyarakat Butuh Jalan, Bukan Polemik
Xiao huli • 3 hari lalu
Berita Terkini
Dalam pemaparannya, Galang Al Faruq menyoroti gelombang demonstrasi besar yang terjadi di berbagai daerah Indonesia. Menurutnya, aksi tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan sebagai potret krisis representasi politik di negeri ini.
“Kekecewaan masyarakat, utamanya rakyat kecil, telah sampai pada titik didih terhadap DPR yang dinilai gagal menjadi representasi suara rakyat,” ujarnya.
Gubernur Lepas Angkatan Pertama SMA Unggul Garuda, Titip Harumkan Nama Daerah
Xiao huli • 4 hari lalu
Berita Terkini
Dishut Kaltara Tegaskan Pengadaan Motor Operasional KPH Malinau Berjalan Sesuai Ketentuan
Xiao huli • 4 hari lalu
Berita Terkini
Galang juga menyoroti tragedi tewasnya seorang pengemudi ojek online akibat dilindas kendaraan taktis saat aksi unjuk rasa di Jakarta pada 28 Agustus 2025, yang disebutnya sebagai bukti jauhnya aparat dari tugas utamanya sebagai pelindung masyarakat.
Sementara itu, Israil selaku pemantik kedua mengingatkan pentingnya kecerdasan mahasiswa dalam menyikapi isu nasional.
“Kita harus pintar memilah informasi yang akan kita kawal. Jika ingin terlibat dalam demonstrasi, mahasiswa harus bisa membaca situasi dan jangan sampai terprovokasi,” tegasnya.
Ia juga menekankan perlunya membangun jejaring solidaritas yang lebih luas, tidak hanya di kalangan mahasiswa, tetapi juga bersama elemen masyarakat lainnya seperti buruh, petani, nelayan, dan kelompok marginal.
Diskusi ini diharapkan dapat menjadi ruang dialektika mahasiswa untuk terus mengawal isu-isu nasional dengan bijak, serta memperkuat kesadaran kolektif dalam mendorong perubahan sosial yang lebih adil.





