BLORA, Beritabenua- Tragedi G30S/PKI menjadi salah satu peristiwa sejarah yang jejaknya tak pernah pudar. Untuk kembali menyingkap memori kolektif bangsa, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Ibnu An-Naafis STAI Muhammadiyah Blora menggelar seminar bertajuk “Jejak yang Tak Akan Pernah Hilang”, Selasa (30/9/2025).
Acara yang berlangsung di Aula STAI Muhammadiyah Blora ini menghadirkan Susilo Toer, adik kandung sastrawan Pramoedya Ananta Toer, sebagai narasumber utama.
Aksi jilid V, Dugaan Indikasi Korupsi Pembangunan PAUD Negeri Tamalate, Hingga Upaya Melindungi Pelaku oleh Kejati Sulsel
BeritaBenua.com • sekitar 7 jam lalu
Berita Terkini
Jelang Hari Buruh: Adnan Rijal Diduga Diberhentikan Sepihak Tanpa Hak Usai Tujuh Tahun Kerja
BeritaBenua.com • 1 hari lalu
Berita Terkini
Dengan tutur tenang namun sarat makna, Susilo mengajak peserta menyusuri kembali jejak panjang Partai Komunis Indonesia (PKI), mulai dari ideologi, kelahiran, hingga tragedi berdarah yang mewarnai perjalanan bangsa.
“Kalau ingin menjadi orang cerdas, minimal bacalah 10.000 buku. Kebenaran yang disembunyikan bisa ditemukan kembali melalui bacaan. Maka, jangan biarkan ketidaktahuan membutakan kita,” ujarnya, menekankan pentingnya literasi sebagai upaya menjaga kebenaran dari terkubur oleh waktu.
Dr Andi Cibu: Putusan MK 123/2025 Pertegas Batas Penerapan UU Tipikor dalam Kasus Sektoral
BeritaBenua.com • 4 hari lalu
Berita Terkini
Konservasi Mangrove Camp Dirangkaikan dengan Aksi Bersih Pesisir dalam Rangka Hari Bumi 2026 di Kampung Nelayan Untia
BeritaBenua.com • 5 hari lalu
Berita Terkini
Dalam sesi diskusi, seorang peserta melontarkan pertanyaan tajam “Bagaimana cara menerapkan sejarah yang belum terungkap?”
Pertanyaan tersebut seakan menjadi refleksi bersama bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan kompas untuk menentukan arah bangsa.
Naufal Ibrahim, Ketua Bidang Hikmah PK IMM Ibnu An-Naafis, menegaskan kembali urgensi perenungan sejarah dalam kegiatan ini.
“Tragedi ini adalah pengingat. Kita tidak boleh melupakan sejarah. Jas Merah!” tegasnya.
Nama besar Pramoedya Ananta Toer juga kembali mengemuka dalam seminar tersebut. Melalui karya-karya monumental seperti Bumi Manusia hingga Rumah Kaca, Pramoedya dinilai telah menyalakan lentera sejarah agar bangsa tidak terjerumus ke dalam kegelapan yang sama.
Meski acara usai, raut wajah para mahasiswa yang hadir menunjukkan kesan mendalam. Bagi mereka, sejarah bukan lagi sekadar kisah usang dalam buku teks, melainkan darah dan air mata yang pernah menetes di bumi pertiwi.
Seminar ini menegaskan kembali bahwa jejak sejarah memang tak akan pernah hilang. Tugas generasi hari ini adalah merawat ingatan itu, agar masa depan bangsa tetap berjalan dalam cahaya kebenaran.





